Berinvestasi di Kebun Jabon

Mengawali tulisan ini, saya menginformasikan bahwa saya termasuk orang yang nol besar dengan dunia pohon Jabon di awal Nopember 2012. Apalagi terkait investasi di pohon kayu untuk industri ini. Dan sejak rekan saya “merayu” saya untuk ikut berinvestasi di kebun Jabon, saya secepatnya meminta bantuan konsultan pribadi saya, Pakde Google, untuk mencarikan informasi sebanyak-banyaknya tentang jenis investasi ini.

Hasil akhirnya? Saya berkesimpulan, investasi di kebun Jabon termasuk layak diikuti.

Meskipun begitu, saya pikir akan lebih baik bila informasi yang saya peroleh ini di-share bersama. Karena, bisa jadi ada diantara pembaca disini yang juga sudah terkena “dirayu-rayu” ikut serta investasi Jabon, namun masih gagap menetapkan pilihannya, gara-gara rayuannya kurang “seksi” dan dianggap sebagai “another Gangnam styles… upsss… MLM styles”.

Terserah anda, mau bilang saya termasuk orang yang merayu, tapi yang jelas informasi yang saya peroleh ini  – menurut saya – memang “seksi”, sehingga membuat saya menjadi salah satu orang yang terpaksa harus tepar dan ikut-ikutan terkapar karena rayuannya, bukan karena dari rayuan rekan saya, tapi karena memang ini rayuan yang nyata.

Hingga saat ini, banyak instrumen investasi produk keuangan yang dijajalkan pemerintah kepada masyarakat, seperti tabungan, deposito, obligasi, saham, reksa dana, dana pensiun, emas, properti, asuransi, dan valas. Selain instrumen ini, banyak pula masyarakat yang melakukan jenis investasi yang langsung terjun kepada bisnis intinya melalui permodalan dengan sistem bagi hasil atau kerjasama jual-beli. Semua ini memiliki tingkat perolehan besaran keuntungan yang berbeda-beda. Umumnya, mengetahui dengan jelas seperti apa karakter instrumen investasi tersebut akan memberikan cukup informasi bagi investor untuk memperkirakan seberapa besar keuntungan yang akan diperolehnya bila berinvestasi di instrumen tertentu.

Saya tidak hendak mencoba membanding-bandingkan investasi ini dengan jenis investasi lain – seperti umumnya konsultan investasi lakukan dengan berusaha meyakinkan anda bahwa ini lebih menguntungkan dibandingkan investasi lain -, karena saya beranggapan setiap investasi memiliki keunggulan dan kelemahannya masing-masing. Silahkan anda sendiri yang berhitung-hitung dan menentukan pilihan. Namun, agar anda juga tidak meraba-raba, sedikit saya informasikan di awal… ada seorang teman yang berada di Departemen Kehutanan mengatakan dengan investasi 8 juta untuk 100 pohon jati mas pada 3-4 tahun yang lalu, saat ini (tulisan ini dibuat bulan Nopember 2012) nilai panennya sudah mencapai 40 juta. Dan itu sudah ada yang menikmatinya.

Dengan penjelasan ini, saya mencoba masuk ke dalam pertanyaan yang menggelitik, seperti tertera persis di bawah kalimat ini.

Kenapa harus investasi di hutan?

Menjawab pertanyaan ini, saya coba suguhkan kutipan cerita yang diberikan konsultan saya, Pakde Google, dari http://linihijau.com/2012/02/14/komoditas-kehutanan-baru-sebatas-komoditas-investasi/

“Ibu punya tanaman kayu di kebun ibu?” begitu tanya saya kepada responden yang merupakan anggota kelompok tani hutan – yang lebih dikenal dengan istilah kelompok tani penghijauan (karena asal muasal terbentuknya kelompok tani adalah adanya program penghijauan yang merupakan program lanjutan kegiatan dari pusat).”Punya, misalnya sengon, bitti, gmelina dan sedikit jati”, jawabnya.

Demikian seterusnya tanya jawab berlangsung seputar tanaman apa yang dimiliki di lahan miliknya sekaligus menanyakan seputar penghasilan rumah tangganya.

Yang menarik adalah sewaktu responden tersebut menyebutkan mengenai sumber penghasilannya. Disebutkan antara lain bahwa penghasilannya berasal dari: ternak yang ia miliki (seperti misalnya ayam dan sapi), kemudian dari tanaman komoditas perkebunan dan pertanian yang ia miliki (seperti: coklat, vanili, sawah), tanpa menyebut tanaman kayu yang ia miliki seperti telah disebutkan di atas.

Saya kemudian menanyakan mengapa tanaman-tanaman kayunya tidak dimasukkan sebagai salah satu sumber penghasilan rumah tangganya. Responden itu kemudian melanjutkan bahwa tanaman kayunya baru akan digunakan (baca: dijual) jika ada keperluan mendesak, seperti biaya sekolah anak maupun biaya menikahkan anak. Atau digunakan sebatas untuk memperbaiki rumah (kebanyakan rumah di daerah masih menggunakan rumah asli adat Bugis/Makassar, yaitu rumah panggung yang berbahan utama kayu.

Memperkuat jawaban ibu ini, berikut saya kutipkan juga dari “Economic incentives and household perceptions on smallholder timber plantations: Lessons from case studies in Indonesia” Dede Rohadi, Maarit Kallio, Haruni Krisnawati and Philip Manalu, pada Montpellier conference 24-26 March 2010, di halaman 9-10.

Data analyses on 30 kadam planters in Asem Jaya village indicated that most of them (83%) grew kadam as saving accounts for the oldies (see the Table 3). Other than for saving account, kadam was also planted for environmental reasons, such as prevent soil erosion. Small amount of respondents (30%) planted kadam due to influence from the company, their neighbors or farmers’ groups. It is somewhat unpredicted that the farmers did not state the company to have more influence on their decision to plant kadam, as all the kadam plantations in this region were initiated by seedling distribution provided free of charge from the plywood company.

Both case studies indicated that timber trees were mainly planted as they acted as saving accounts for the farmers, not as the main source of income.

NB: kadam merupakan kata lain dari pohon Jabon yang nama latinnya Anthocephalus cadamba.

Linknya dapat dilihat di http://ittoiswa.com/userfile/publication/20110429_083454Dede%20Rohadi_Smallholder%20timber%20production%20in%20Indonesia.pdf

Alasan ke-1:

Kutipan di atas menunjukkan perilaku berinvestasi sudah banyak dilakukan masyarakat desa melalui penanaman pohon kayu untuk industri, meski tidak masif. Artinya, mereka saja tahu bahwa pohon kayu industri dalam jangka panjang memiliki nilai ekonomis sebagaimana bila berinvestasi dengan, misalnya, emas dimana nilainya akan naik seiring berjalannya waktu. Jadi ini memang sebuah model pilihan investasi yang layak diambil.

Alasan ke-2: 

Permintaan terhadap hasil-hasil hutan masih sangat banyak baik dari dalam dan luar negeri, sehingga membuat banyak lahan yang seharusnya dilindungi, berani dijamah dan dirusak investor yang “dangkal” cara berpikirnya.

Sumber siaran pers Dephut September 2005 memperkirakan angka kebutuhan bahan baku industry kehutanan berdasarkan ijin yang ada adalah;  industry Sawmill, kebutuhan bahan baku 22,09 juta m3 per tahun,  selanjutnya Plymill 18,87 juta m3 per tahun, pulpmill kebutuhan bahan baku 17,91 juta m3 per tahun, dan lain-lain sebanyak 150 unit dengan kebutuhan bahan baku 4,61 juta m3 per tahun. Berdasarkan ijin usaha yang telah diterbitkan tersebut kebutuhan bahan baku kayu yang dibutuhkan per tahun mencapai 63,48 juta m3, sedangkan kemampuan produksi kayu bulat rata-rata per tahun sebesar 22,8 juta m3, yang bersumber dari hutan alam, hutan tanaman, hutan rakyat, dan sumber lain. Hal ini mengakibatkan terjadi kesenjangan kebutuhan bahan baku sebesar 40,60 juta m3 per tahun. Data Kemenhut  s/d Desember 2009 menunjukkan angka produksi kayu bulat dari berbagai sumber adalah 37,602,495.98 Juta meter kubik.  [ini kutipan langsung dari sumber, meski saya yakin yang dimaksud angka di akhir ini seharusnya tidak perlu ditambah lagi dengan kata “Juta”]

Terhadap angka kebutuhan bahan baku berdasarkan kapasitas terpasang industri kehutanan, dimana adanya ketimpangan antara kebutuhan tersebut dengan kemampuan penyediaan bahan baku dari produksi kayu bulat antara lain telah mendorong terjadinya pencurian kayu di hutan negara, serta menurunnya kinerja industri yang menyebabkan antara lain menurunnya dan bahkan penghentian produksi oleh beberapa industri pengolahan hasil hutan. (sumber: IWGFF_Studi Advokasi PT RAPP & PT IKPP di Propinsi Riau, hal. 4)

Dapat dilihat di link http://www.savesumatra.org/app/webroot/upload/report/IWGFF_Studi%20Advokasi%20PT%20RAPP%20&%20PT%20IKPP%20di%20Propinsi%20Riau.pdf

Apakah Anda termasuk orang yang peduli dengan lingkungan dan masa depan bumi kita? Jika ya, Anda bisa mulai membantunya dengan salah satunya ikut berinvestasi dengan bertanam tanaman hutan untuk industri di negara kita, agar tidak hanya pasokan kayu untuk dunia industri menjadi lebih banyak, tapi juga agar pasokan oksigen semakin besar dan kelestarian alam semakin terjaga.

Alasan ke-3:

Pemerintah mendorong hidupnya penanaman hutan tanaman industri dan hutan tanaman rakyat, dan melarang membabat hutan baru, khususnya pada hutan-hutan yang dilindungi undang-undang.

Pada tahun 2030, industri pulp dan kertas Indonesia ditargetkan mampu memproduksi pulp sebesar 45-63 juta ton dan produksi kertas sebesar 40,5-56,7 juta ton. (untuk rencana pemerintah lainnya juga bisa dilihat di sumber: Permen 49/Menhut-II/2011 RENCANA KEHUTANAN TINGKAT NASIONAL (RKTN) TAHUN 2011-2030, hal 13). sumber linknya http://www.dephut.go.id/files/P49_2011_0.pdf

“Sekarang kita tidak memberikan izin baru menebang. Tinggal izin lama saja,” kata Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan kepada wartawan di sela kunjungannya ke industri pengolahan kayu di kawasan Diwek, Kabupaten Jombang, Senin (31/10/2011).

Zukifli menegaskan, jika pihaknya saat ini tidak akan mengeluarkan izin baru untuk penebangan hutan. “Kalau mengeluarkan izin baru lagi, lama-lama hutan alam kita akan habis. Sekarang kita budayakan menanam bukan budaya menebang hutan alam,” ujarnya. (sumber http://surabaya.detik.com/read/2011/10/31/182911/1756818/475/tak-ada-izin-penebangan-baru-kemenhut-genjot-hutan-tanaman)

Menurut dia [Zulkifli Hasan], pembangunan HTR [Hutan Tanaman Rakyat] bisa mengangkat perekonomian masyarakat sekitar hutan. Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), total penduduk miskin di Indonesia 35 juta jiwa dan 60 persen bermukim di pedesaan dengan sektor kehutanan dan pertanian sebagai sumber penghidupan utama. (sumber http://www.beritasatu.com/bisnis/50230-pembangunan-htr-di-luar-jawa-masih-sulit.html)

Industri pulp dan kertas merupakan sebagian saja dari industri yang menyerap produk-produk kayu dari hutan tanaman industri maupun hutan tanaman rakyat (HTR), masih banyak industri-industri lainnya. Dengan target produksi pulp dan kertas yang sebesar itu ditambah dengan pelarangan penebangan pohon, harapannya geliat HTR akan membantu perekonomian banyak saudara-saudara kita lainnya. Dan, tentu saja, mempengaruhi siapa pun yang akan berinvestasi di sini. Saya belum nemu linknya lagi, tapi ada satu link yang menyuguhkan fakta bahwa saat ini seluruh negara sepakat tidak lagi menggunakan pohon kayu yang berasal dari penebangan hutan alam untuk digunakan dalam industri perkayuan mereka, sehingga otomatis hutan dari tanaman industri dan rakyat yang akan naik daun.

Alasan ke-4:

Hukum pasar. Permintaan banyak, persediaan sedikit, harga cenderung naik. Permintaan sedikit, persediaan banyak, harga cenderung turun. Ketersediaan lahan hutan tanaman produksi yang ada saat ini hingga beberapa tahun kedepan belum bisa menutupi kebutuhan pasar terhadap output hasil hutan.

Sepanjang tahun lalu, konsumsi kertas dalam negeri mencapai 7,8 juta ton, dan kebutuhan dunia saat ini sebesar 394 juta ton. Pertumbuhan kebutuhan kertas di negara maju akan meningkat sekitar 0,5% per tahun sehingga diyakini mencapai 394 juta ton pada 2020.

Proyeksi peningkatan kebutuhan kertas di negara-negara maju telah membuka peluang pertumbuhan volume ekspor.
Pemerintah telah menargetkan kapasitas ekspor pulp dan kertas diharapkan meningkat 10% tahun ini. Ekspor pulp dan kertas tahun lalu bahkan mampu berkontribusi hingga US$ 6,2 miliar, atau sekitar 5% dari total ekspor Indonesia.

“Pasar ekspor nantinya akan banyak diarahkan ke China dan negara-negara Timur-Tengah,” ungkapnya. (sumber http://apki.net/?p=864)

Produsen pulp dan kertas hingga kini sangat bergantung pasokan bahan baku kayu yang berasal dari hutan tanaman industri (HTI) karena suplai kayu alam hanya tersisa 10 – 15%. (http://apki.net/?p=1638)

“Sebagai negara beriklim tropis, Indonesia sendiri hanya bisa memproduksi pulp jenis serat pendek yang dihasilkan dari Hutan Tanam Industri (HTI),” ujar Direktur Corporate Affairs & Communication APP, Suhendra Wiriadinata, di Jakarta, Kamis (6/9).

Untuk komoditas pulp jenis serat panjang yang dibutuhkan untuk campuran produksi kertas tertentu, menurut Suhendra, masih harus diimpor. “Impor masih dilakukan dari negara-negara di kawasan Skandinavia dan Eropa. Untuk kebutuhan pulp serat pendek biasanya diperoleh dari bahan baku kayu jenis akasia dan ekaliptus,” paparnya. (http://www.klikheadline.com/in/berita/industri-kertas-dipaksa-impor-serat-panjang.html)

Diramalkan, permintaan pulp dan kertas dari 2010 sampai 2015 bakal melonjak tajam, begitu juga dengan suplainya. Pada 2010 pertumbuhan pulp tercatat sebesar 4,3 juta ton dan akan meningkat pada 2025 menjadi 5,7 juta ton. Sementara berdasarkan produksi, volume industri pulp mencapai 26,5 juta ton dan diprediksi naik menjadi 38,9 juta ton pada tahun 2025.

Secara global, kata Hadi, pertumbuhan pulp meningkat 2,6 persen per tahun. Hal ini dikarenakan adanya Asean China Free Trade Agreement (ACFTA). “Permintaan bubur kertas dari Tiongkok terus meningkat hingga 139 persen sejak 2005. Potensi tersebut menguntungkan industri kehutanan di Indonesia,” sebutnya. (http://regionalinvestment.bkpm.go.id/newsipid/displayberita.php?in=305&ia=0)

Menurutnya, kapasitas terpakai industri kayu nasional saat ini hanya 30% dari total kapasitas terpasang. Misalnya, produksi plywood tahun ini hanya 3 juta meter kubik. (http://www.bisnis.com/articles/industri-kehutanan-biaya-produksi-tinggi)

Rujukan ini, ditambah dengan informasi di alasan ke-1, tentang kesenjangan bahan baku yang mencapai 40 juta m3 per tahun, hanya sekedar informasi. Karena hitung-hitungan matematisnya jujur saja, saya juga belum paham. Paling tidak, informasi yang penting digarisbawahi adalah industri kayu selain diperlukan untuk industri dalam negeri, juga akan merambah pasar ekspor. Rekan di Departemen Kehutanan juga bilang saat ini harga kayu tidak pernah turun, dan saya pikir bisa jadi dikarenakan besarnya kebutuhan industri dan ekspor inilah yang merupakan salah satu faktor penyebabnya.

Alasan ke-5:

Hasil-hasil dari produksi hutan, outputnya sangat berkaitan erat dengan hajat manusia secara keseluruhan dan berkesinambungan. Untuk ini, saya tidak perlu mengambil rujukan dari internet. Contoh kongkritnya ada persis di hadapan anda atau di rumah anda, seperti kertas, pensil, meja, kursi, lemari, korek api, tusuk gigi, peralatan dapur, minyak sayur, beragam jenis furniture, obat-obatan, dan masih banyak lagi. Dan semua ini memiliki tingkat keberlangsungan kebutuhan yang selalu ada di sepanjang masa di seluruh dunia.

Alasan ke-6:

Nilai investasi yang ditanam untuk jenis hutan tanaman industri cukup layak menjadi pilihan diantara banyaknya pilihan-pilihan investasi keuangan yang sudah ada. Dan nilai investasi ini juga tidak main-main, karena langsung dijelaskan oleh Menteri Kehutanan, Zulkifli Hasan, secara langsung, seperti dikutip disini.

Mau dihitung dengan bunga bank manapun, menanam pohon tetap jauh lebih menguntungkan,” ujar  Zulkifli di Jakarta, hari ini.Keuntungan yang menjanjikan juga berlaku untuk jenis pohon yang selama ini dikenal butuh waktu lama untuk bisa dipanen seperti Jati. Menurutnya, dengan perkembangan teknologi dan perlakuan khusus, tanaman jati saat ini bisa dipanen hanya dalam lima tahun.

“Investasi yang  dibutuhkan untuk menanam jati unggul sebesar Rp 70 ribu per batang selama lima tahun. Saat panen di tahun kelima, harga Jati bisa Rp 500  ribu per batang,” kata dia.

Untuk itu, dia mendorong semua pihak agar tidak ragu berinvestasi  menanam pohon. Selain menguntungkan, penanaman pohon juga membantu  keseimbangan lingkungan. (sumbernya dari http://www.beritasatu.com/bisnis/44226-menhut-investasi-pohon-paling-menguntungkan.html)

Alasan ke-7:

Prediksi jangka waktu investasi sudah terlihat jelas antara 5-7 tahun. Tergantung jenis tanaman yang dikembangkan dan bagaimana penanamannya. Linknya? barusan diatas ada disebut-sebut jati yang bisa dipanen setelah lima tahun.

Alasan ke-8:

BERPAHALA!!! Sengaja ini saya tulis seperti ini, untuk memberi penekanan betapa pentingnya hal ini.

Siapa yang menyangkal bahwa kehidupan di bumi ini diciptakan olehNya bukanlah untuk dirusak, tapi justru untuk memberikan manfaat, tidak hanya bagi kita saat ini, tapi juga keturunan yang akan hidup di jaman yang berbeda di masa depan nanti? Bila saat ini kita tahu bumi sedang sakit akibat efek Gas Rumah Kaca dan banyaknya penebangan pohon, berarti berinvestasi di bidang penanaman pohon tentu memberikan kontribusi positif bagi amal ibadah kita sendiri di hari nanti. Dengan berinvestasi dengan penanaman hutan, juga berpahala memberikan tambahan pasokan oksigen bagi banyak manusia, bukan hanya di Indonesia, tapi dunia!!!. Imagine that!

Saya bukan orang yang ahli agama. Tapi, karena saya Muslim, saya berikan rujukan betapa kuatnya Islam meminta umatnya untuk menjaga kelestarian alam dan lingkungan hidup. Saya di sini tidak akan mengambil rujukan dari Al-Quran karena sudah sangat banyak rujukan di sana. Saya hanya coba tambahkan dengan minta bantuan konsultan saya lagi, Pakde Google, untuk dicarikan hadits-hadits atau perkataan sahabat Rasulullah SAW yang berkaitan dengan ini. Untuk agama lain, saya yakin mereka juga memiliki rujukan masing-masing yang semirip, meski saya tidak tahu seperti apa itu, dengan yang saya temui disini. Dan inilah diantaranya.

“Tak ada seorang muslim yang menanam pohon atau menanam tanaman, lalu burung memakannya atau manusia atau hewan, kecuali ia akan mendapatkan sedekah karenanya.” [HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab AL-Muzaro’ah (2320), dan Muslim dalam Kitab Al-Musaqoh (3950)]

“Tak ada seorang muslim yang menanam pohon, kecuali sesuatu yang dimakan dari tanaman itu akan menjadi sedekah baginya, dan yang dicuri akan menjadi sedekah. Apa saja yang dimakan oleh binatang buas darinya, maka sesuatu (yang dimakan) itu akan menjadi sedekah baginya. Apapun yang dimakan oleh burung darinya, maka hal itu akan menjadi sedekah baginya. Tak ada seorangpun yang mengurangi, kecuali itu akan menjadi sedekah baginya.” [HR. Muslim dalam Al-Musaqoh (3945)]

“Jika hari kiamat telah tegak, sedang di tangan seorang di antara kalian terdapat bibit pohon korma; jika ia mampu untuk tidak berdiri sampai ia menanamnya, maka lakukanlah.” [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (3/183, 184, dan 191), Ath-Thoyalisiy dalam Al-Musnad (2068), dan Al-Bukhoriy dalam Al-Adab Al-Mufrod (479). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 9)]

“Tak akan tegak hari kiamat sampai tanah Arab menjadi tanah subur dan sungai-sungai.” [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (2/370 & 417), dan Muslim dalam Kitab Ash-Shodaqoh (2336)]

“Aku pernah mendengarkan Umar bin Khoththob berkata kepada bapakku, “Apa yang menghalangi dirimu untuk menanami tanahmu?” Bapakku berkata kepada beliau, “Aku adalah orang yang sudah tua, akan mati besok.” Umar berkata kepadanya, “Aku mengharuskan engkau (menanamnya). Engkau harus menanamnya!” Sungguh aku melihat Umar bin Khoththob menanamnya dengan tangannya bersama bapakku.” [HR. Ibnu Jarir Ath-Thobariy sebagaimana dalam Ash-Shohihah (1/1/39)]

Diceritakan oleh Anas Rodhiyallohu ‘anhu dari Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Kendatipun hari kiamat akan terjadi, sementara di tengah salah seorang di antara kamu masih ada bibit pohon korma, jika ia ingin hari kiamat tidak akan terjadi sebelum ia menanamnya, maka hendaklah ia menanamnya.” Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Ahmad (3/183, 184, 191),ath-Thayalisi (hadis nomor 2078), Imam Bukhari di dalam al-Adab al-Mufrad (hadis nomor 479) dan Ibn al-Arabi didalam kitabnya al-Mu’jam (1/21), yang dikutip dari hadis Hisyam ibn Yazid dari Anas Rodhiyallohu ‘anhu.

Dari Jabir Rodhiyallohu ‘anhu secara marfu’: “Seorang Muslim yang menanam suatu tanaman, niscaya apa yang termakan akan menjadi sedekah, apa yang tercuri akan menjadi sedekah, apa yang termakan oleh burung akan menjadi sedekah, dan apapun yang diambil oleh seseorang dari tanaman itu akan menjadi sedekah pula bagi (pemilik)-nya (sampai hari kiamat datang).” Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dari jabir Rodhiyallohu ‘anhu yang kemudian diriwayatkan secara bersama dengan Imam Ahmad (3/391) dari sanad lain yang senada, yang fungsinya sebagai penguat, (penerjemah). Yaitu hadis-hadis lainnya yang juga berfungsi sebagai syahid, disebutkan oleh al-Mundziri dalam at-Targhib (3/224,245).

Kenapa Jabon?

 

Ya… kenapa harus Jabon? Sebetulnya untuk menjawab pertanyaan ini, saya menemukan cukup banyak rujukan dari berita-berita yang terkait dengan kehutanan. Saya akan berikan seluruh link yang saya catat, di akhir artikel saya ini. Tapi, berikut ini saya kutipkan beberapa saja informasi yang berhasil dihimpun Pakde Google tentang prospek Jabon.

Aceh Jaya 2020 (http://aceh.tribunnews.com/2012/07/09/aceh-jaya-2020)

“Semua orang tahu, itu pohon ajaib yang sangat cepat tumbuh membesar. Usia 7 tahun layak panen dengan diameter rata-rata 45 cm. Ia, tumbuh merata di setiap wilayah sudut Aceh Jaya.”

Memetik Uang dari Investasi Pohon ‘Jabon’ (http://finance.detik.com/read/2011/02/21/103200/1574859/480/memetik-uang-dari-investasi-pohon-jabon)

Kemasyuran pohon jabon sebagai salah satu pohon yang bernilai ekonomis tinggi, juga telah diakui oleh Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan. Zulkifli menilai, harga jual kayu jabon bernilai tinggi sehingga cocok untuk investasi masyarakat.

“Satu kubik pohon jabon sekarang harganya Rp 1,6 juta, kalau harga beberapa tahun lagi, pasti lebih mahal,” kata Zulkifli akhir pekan lalu.

Zulkifli mengatakan panen  jabon bisa dipetik dalam waktu hanya 6-7 tahun paling lama. Selain buat investasi, menanam jabon juga bisa menjadi saran mensukseskan program menanam 1 miliar pohon.

Investasi Kayu Jabon di Sulteng Menggiurkan (http://makassar.antaranews.com/berita/36304/investasi-kayu-jabon-di-sulteng-menggiurkan)

“Kami perkirakan, petani bisa mendapat sekitar Rp300 juta selama tujuh tahun per hektare,” katanya.

Dia mengatakan kelebihan pohon jabon tidak perlu pemeliharaan pemangkasan karena tangkainya rontok sendiri. Kayu ini juga tegak lurus dengan ketinggian sampai 25 meter.

Menurut Ichlas, usia panen kayu ini mencapai tujuh tahun dan diperkirakan diameternya mencapai 50 centimeter.

“Sehingga satu pohon diperkirakan bisa mencapai satu meter kubik,” katanya.

Dia mengatakan pengusaha dan petani yang melirik investasi ini sudah berjalan sejak 2010 namun belum secara massif.

Sumsel apresiasi keinginan investor buka perkebunan jabon (http://www.antarasumsel.com/berita/266820/sumsel-apresiasi-keinginan-investor-buka-perkebunan-jabon)

Pemerintah Sumatera Selatan mengapresiasi keinginan investor swasta PT Sentosa Selamat Sejahtera memanfaatkan lahan hutan seluas 40.993 hektare di Kabupaten Banyuasin untuk perkebunan jenis tanaman pohon jabon.

Investasi Industri Kehutanan Mencapai Rp 32 Triliun (http://www.tempo.co/read/news/2011/10/05/090359945/Investasi-Industri-Kehutanan-Mencapai-Rp-32-Triliun)

Sepanjang tiga tahun belakangan ini sebanyak 328 unit perusahaan industri berbasis hutan tanaman mulai bergeliat. Meskipun masih tergolong kecil, namun aglomerasi industri kayu sudah mulai terjadi di pulau Jawa seperti di Banten, Tasikmalaya, seluruh kabupaten di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Daerah tersebut, kata Hadi, banyak menanam pohon jenis sengon dan jabon di pekarangan rumah. “Namun sayang perkembangan ini belum terjadi di luar Pulau Jawa karena sudah banyak yang berhenti beroperasi.”

 

Mari berkenalan dengan Jabon

Sebelum dikenalkan kayu Jabon, banyak industri pulp dan kertas memanfaatkan kayu pohon dari Acacia dan Eucalyptus sebagai bahan baku. Namun, ternyata belakangan ini, kedua jenis kayu tersebut memiliki masalah-masalah. Detilnya anda bisa lihat pada link di bawah ini.

“Permasalahan yang dialami Acacia dan Eucalyptus tersebut salah satu solusinya adalah mengganti dengan tanaman alternatif.  Jabon (Anthocephalus cadamba Miq.) sebagai salah satu jenis tanaman alternatif telah  memenuhi persyaratan untuk dijadikan sebagai bahan pulp dan kertas, antara lain adalah cepat tumbuh (fast growing),  panjang serat 1,561 µm, diameter serat 23,95 µm, dan tebal dinding serat 2,78 µm.” (Serangan Hama Dan Tingkat Kerusakan Daun Akibat Hama Defoliator Pada Tegakan Jabon, oleh Avry Pribadi, pada Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol. VII No. 4 : 451-458, 2010) http://www.forda-mof.org/files/10_Avry_klm_OK.pdf

Dan untuk lengkapnya tentang Jabon, bisa dilihat pada makalah pdf berjudul “Prospek Pengembangan Jabon untuk Mendukung Pengembangan Hutan Tanaman” oleh Dr Ir Irdika Mansur, M.For.Sc dari IPB, di http://www.forda-mof.org/files/Prospek_Jabon.pdf. Tambahan catatan, makalah tersebut dibuat tahun 2012, bukan 2013.

 
 

Nilai investasi Jabon

Berapa sih keuntungan investasi Jabon? Hasil comot sana sini untuk kuantitas pohon dalam 1 hektar yang dikumpulin dari Pakde Google sbb:

jarak tanam 4 x 6 meter = 400 batang pohon.
jarak tanam 4 x 4 meter = 625 batang pohon.
jarak tanam 3 x 4 meter = 825 batang pohon.
jarak tanam 3 x 3 meter = 1.000 batang pohon.

Sedangkan untuk prospek harga pasar kayu jabon yaitu: (dari http://penyuluhkehutanan.wordpress.com/2011/09/22/widyakarya-prospek-kayu-jabon-dan-persemaian-modern/)

Panjang 160cm

diameter 13-18 cm dihargai sebesar Rp 500.000,- s.d. Rp 550.000,-
diameter 19-24 cm dihargai sebesar Rp 700.000,- s.d. Rp 750.000,-
diameter 25 cm up dihargai sebesar Rp 850.000,-.

Panjang 260 cm

diameter 25-29 cm dihargai sebesar Rp 792.000,-
diameter 25-29 cm dihargai sebesar Rp 792.000,-
diameter 30-39 cm dihargai sebesar Rp 882.000,-
diameter 40-49 cm dihargai sebesar Rp 962.000,-
diameter 50 cm up dihargai sebesar Rp 972.000,-

Jadi untuk harga fantastisnya, dengan asumsi penanamannya menghasilkan bulatan yang sama rata, untuk 1000 pohon akan dicapai angka hampir 1M dalam jangka waktu 5 tahun.

Mencoba realistis di investasi Jabon

Saya ingat jelas rekan saya di Departemen Kehutanan mengatakan bahwa bila pada saat penanaman dan pemeliharaan di tahun pertama dilakukan dengan tepat, maka akan menghasilkan bulatan pohon yang berdiameter relatif sama rata dalam 1 wilayah penanaman pada saat dilakukan pemanenan, seperti yang dicontohkannya dengan pemanenan jati mas, yang artinya akan memberikan pendapatan yang sama pula untuk setiap 1 pohonnya. Namun saya mencoba sedikit realistis dengan melihat pelaku industri yang mengabarkan informasi terkait panen Jabon dan penjualannya. Bukannya apa-apa, karena saya tidak bisa memberikan informasi dari rekan saya tersebut dalam bentuk dokumentasi tertulis maupun tercatat di internet, jadi lebih baik saya berikan link yang jelas, agar anda juga bisa mengkalkulasi sendiri dengan angka realistis maupun bila berhasil memanen dengan kualitas sama rata.

Silahkan anda baca artikel “Jabon, 1 Hektar Milliaran Rupiah dalam 5 Tahun?” di link ini http://ekonomi.kompasiana.com/agrobisnis/2012/01/19/jabon-1-hektar-milliaran-rupiah-dalam-5-tahun/, sebagai gambaran agar anda juga siap untuk berhitung-hitung ketika memasuki investasi ini. Dalam artikel ini disebutkan mustahilnya mendapat pencapaian hingga milyaran rupiah dengan penanaman 1 hektar tanaman pohon Jabon. Prinsip dasarnya adalah jarak penanaman yang membuat asumsi pencapaian milyaran itu mustahil. Dengan kerapatan tanaman yang semakin sempit dengan memperbanyak pohon, justru akan menimbulkan hasil akhir yang sedikit. Ini cenderung akan mengakibatkan diameter batang menjadi tidak besar. Artinya, para petani atau investor salah mempersepsi saat penanaman.

Tapi, sekali lagi saya meyakini – seperti yang disampaikan rekan di Dephut – bahwa memang metode penanaman dan pemeliharaan pohon Jabon yang tepat yang akan menentukan hasil akhir. Fakta ini dibuktikan oleh teman saya yang mengirimkan sms ke saya (28 Nopember 2012, pukul 14.03 WIB) untuk menjawab pertanyaan saya tentang panen pohon Jabon yang akan dilakukannya, yang isinya:

“minggu tgl 2 desember kami akan seremonial panen xxxxx di garut, diameter dari 40 smp 50 bahkan ada yg lebih dan tinggi rata2 diatas 20 M”

Saya gak tau apa harus bilang luar biasa? atau biasa saja? Luar biasa karena hasilnya tidak sama dengan yang menggunakan penanaman konvensional? Atau biasa saja karena kalau semuanya menanam seperti itu, berarti tidak ada hasil yang luar biasa?

 
 

Pilihan investasi kebun Jabon: Jalankan sendiri/patungan atau dibantu sistem?

Semua pilihan mengandung tingkat keuntungan dan resikonya masing-masing. Apapun model investasi yang dipilih, pastikan itu sudah diperhitungkan matang-matang. Saya hanya mencoba memberikan pandangan dan saran dari perspektif kacamata saya – dan memang saya berkacamata ^_^.

Bila anda memilih untuk menjalankan jenis investasi dengan modal dan dilakukan sendiri atau patungan ini maka beberapa hal yang harus dipertimbangkan adalah:

  1. Coba mulai memahami bagaimana proses penanaman pohon Jabon yang benar. Mulai dari proses penanaman pohon Jabon hingga sampai hasil penebangan masuk ke dalam pabrik. Jangan lupa ajak serta pakar bidang penanaman pohon Jabon ini, baik dari akademisi maupun praktisi, agar memperoleh hasil produksi yang maksimal.
  2. Penjualan kayu hasil penebangan hutan, meskipun menggunakan nama Hutan Tanaman Rakyat (HTR), memiliki aturan-aturan yang harus dipatuhi. Diantaranya perijinan. Karena semua penjualan kayu rakyat saat ini harus memiliki ijin atau sertifikasi, minimal dari kelurahan atau kepala desa. Tapi, Kementerian Kehutanan sudah menjanjikan untuk mempermudah perijinan terkait produksi HTR. Harap dimaklumi, dengan dilarangnya penebangan liar di hutan alam, membuat pemerintah harus ekstra ketat menjaga hutan dari penebangan liar. Salah satunya dengan menerapkan peraturan perundang-undangan terkait perijinan penjualan kayu.
  3. Anda juga harus bisa memperhitungkan dan mengontrol semua lini yang dapat mengakibatkan cost-loss, seperti masalah kepemilikan tanah, penggarap, hama dan penyakit tanaman, transportasi, biaya potong, dll.

Bila anda memilih berinvestasi pada sistem yang dikelola lembaga tertentu, maka diantara yang harus dipertimbangkan adalah:

  1. Kenali bagaimana kredibilitas pembuat sistemnya. Sejauhmana mereka memahami proses penanaman pohon Jabon mulai dari awal hingga pemanenan. Apakah mereka memang memiliki ahli di bidang penanganan penanaman pohon Jabon ini hingga produksi.
  2. Karena hasil-hasil hutan sangat terkait dengan hubungan perijinan di daerah, termasuk hasil produksi kebun Jabon, maka anda bisa cross-check dengan aparat setempat tentang bagaimana tingkat kepercayaan pemda setempat tentang lembaga mereka.
  3. Coba eksplorasi mekanisme sistem investasinya agar anda tahu berapa bagi hasil yang akan anda peroleh.

Di tanah air, saat ini sudah ada beberapa perusahaan kayu yang turut menyertakan jasa investasi di dalamnya. Diantara semua itu, ada yang memberikan janji keuntungan yang cukup realistis, meski juga ada yang cukup “bombastis”.  Anda bisa minta bantu konsultan saya, Pakde Google, untuk mendapatkan salah satunya.

Saya tidak memaksa anda untuk mau ikut serta bersama saya bergabung dengan sistem investasi yang sedang saya ikuti saat ini. Selain setiap rejeki sudah diatur oleh Yang Maha Pemberi Rizqi, lebih banyak yang menanam akan membantu mempercepat kembalinya hutan nasional menjadi hijau.

Namun, sekedar berbagi informasi, investasi yang saya ikuti ini memberikan penjaminan pada pohon-pohon yang ditanam atas nama saya dengan menyertakan penanaman pohon cadangan, bila sewaktu-waktu terjadi force-majeur. Selain itu, kebun Jabon tersebut tidak fiktif, karena bukti tanaman tersebut dapat kita datangi dan lihat secara langsung, sekaligus diberikan bukti sertifikat kepemilikan atas investasi pohon Jabon milik kita.

Oya, fyi, setiap bulan Desember, pemerintah mencanangkan sebagai bulan Menanam Pohon Nasional lho. Jadi, jangan lupa bertanam pohon ya. ^_^

Terakhir… kalau ada yang mau memasang artikel ini di blognya, ato mau dikopas jadi e-book skalian, saya dengan suka rela memperbolehkan. Saya hanya minta satuuuu permintaan saja. Gak banyak. Tolong jangan lupa untuk mencantumkan sumber linknya blog saya ini. Itu saja. OK? Gampang kan, daripada harus membuat dari nol dan harus konsultasi bolak balik sama Pakde Google?

Bila anda ingin info lebih jauh terkait keinginan berinvestasi di kebun Jabon ini, bisa kontak saya via sms terlebih dahulu di 0813-1907-2492 atau tinggalkan pesan di kolom komentar.

(c) INVESTASI BERKEBUN JABON

Referensi untuk bahan bacaan lebih lanjut. Seluruh link berhasil dibuka pada saat tulisan ini dibuat. Saya tidak bertanggung jawab kalau link itu mati atau domainnya belum diperpanjang:

e-book
artikel
deviasi harga dan hitungan keuntungan
aktifitas pasar dan plantation

2 Responses to Berinvestasi di Kebun Jabon

  1. cubica says:

    Reblogged this on Home Sweet Home…..

  2. Pingback: Dicari!!! Investor Kebun Jabon Yang Berani Untung Hingga 5 Kali Lipat « Investasi Berkebun Jabon

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: